NOVEL: MUTILASI CINTA-06

BY: YIYIN N HEART
…………………………………………………………………………………….
“Operasi plastic wajah saya, dokter?” Juminah dengan wajah mulai memerah melepaskan ciuman dokter itu. “Apakah Bu Djatmiko menyuruh mengubah wajah saya menjadi mengerikan atau bahkan mau dibuat cacat?” Juminah mulai keluar keringat dingin ketika memahami ucapan dokter itu.
“Ambar….,” dokter itu menghela napas, kemudian ia mulai membuka kancing atas bajunya. Tersembulah sesuatu di balik branya. Tangan Juminah dituntun untuk memijat-mijat dua buah ranum itu.
“Tenanglah, dalam perjanjianku dengan Bu Djatmiko adalah aku harus menghilangkan dirimu sebagai Juminah hingga tak seorang pun di dunia ini akan mengenalimu lagi termasuk ibumu atau bahkan bu Djatmiko sendiri!” dokter itu mulai menyerang bagian di dalam bra Juminah. Bibirnya dengan lincah mengisap sesuatu di balik bra itu.
“Jelaskan dokter apa yang diperintahkan Bu Djatmiko dengan wajah saya?” ujar Juminah dengan tubuh lebih pasrah dan rileks.
“Kau tidak usah ketakutan begitu, Ambar! Aku tidak akan menyakitimu dengan operasi plastikku…. ,” dokter itu seraya menyuruh Juminah mengisap dua buah ranum itu. Juminah masih belum melakukannya.
“Ayolah Ambar……,” napas dokter itu ngos-ngosan…., “Aku adalah dokter operasi yang akan menanganimu… Kau harus melayaniku dengan sebaik-baiknya jika tidak ingin dibuat cacat….,” ucap dokter itu yang ternyata seorang wanita lesbian. Juminah memejamkan mata ia akhirnya mengikuti dokter itu….. Ia berusaha pasrah pada apapun yang terjadi. Apalagi mengingat ancaman Bu Djatmiko yang mengancam akan membunuh ibunya jika ia menghindar dari proses pengubahan jati dirinya ini.
Dokter itu jari-jemarinya secara atraktif menggerayangi bagian-bagian sensitive di dada Juminah, seorang gadis perawan tingting yang selama ini belum pernah disentuh laki-laki. Untuk pertama kalinya ia mulai merasakan sentuhan jari itu menelusup ke sela-sela dada Juminah yang terlindungi bra…. Saat itu Juminah merasa amat risih. Ingin rasanya ia mengelak. Tapi ia tak berdaya. Tubuhnya menjadi lemas seketika. Dadanya berdebar tak menentu menahan berbagai dilemma pikiran yang tidak jelas tentang wanita lesbian ini. Ya, lagi-lagi hidup tak memberinya pilihan. Hidup tak memberinya alternative. Mengikuti, atau kematian dia dan ibunya yang harus diterima?
“Aku mencintaimu, Ambar. Bahkan sejak pandangan pertama dadaku bergetar. Aku berjanji akan membuat wajahmu jauh lebih cantik setelah operasi nanti. Dan kau akan kujadikan teman hidupku untuk selamanya….,” dokter itu mendekatkan wajahnya semakin dekat. Lagi-lagi bibirnya yang bergetar perlahan melumat bibir Juminah. Juminah yang sebenarnya sangat ketakutan terpaksa diam untuk kesekian kalinya membiarkan semuanya terjadi. Perlahan Juminah dituntun dan diajari memuaskan nafsu lesbinya. Tubuh dokter itu bagai belut yang kian membesut. Sementara Juminah alias Ambaratih perlahan semakin rileks mengikuti besutan belut itu. Tak ada yang bisa dilakukannya selain pasrah dan perlahan larut dan menikmatinya.
“Ambar, aku sudah membuat sampel wajah untukmu. Tentu saja berdasarkan garis tulang pipi, dagu dan lainnya. Ini gambar wajahmu setelah dioperasi nanti. Prinsifnya aku tidak membuat perubahan total, hanya aku mengubah sedikit bagian hidung, rahang, dan pelipismu. Nah, nanti gambarannya akan seperti ini….,” dokter wanita itu memperlihatkan sample wajah yang sudah didesainnya.
“Wajahku akan dibuat menjadi wajah orang Barat seperti ini, dokter?”
“Mulai sekarang panggil aku, Herlin….,” ucap dokter wanita itu menyebutkan namanya seraya mendaratkan ciuman mesranya ke bibir Ambar alias Juminah. Ambar mengangguk.
“Gimana? Kau siap menjalani tahapan operasi plastiknya?” dokter Herlin mengangkat wajah Ambar dengan suara berbisik, “Aku akan menjadi dokter spesialismu sekaligus akan menjadi teman hidupmu, ambar…. Kau bersedia?” bisik dokter Herlin lagi tak lepas dari sikap mesranya. Ambar hanya menyunggingkan senyum lembutnya. Sebuah senyum kepasrahan atas segala nasibnya. Dokter Herlin tak kuasa menyaksikan senyum Ambar, ia langsung melumatkan bibirnya. Ambar yang pasrah berusaha menikmati ciuman itu bahkan membalasnya. Ia sadar betul, bahwa sedikit saja dokter Herlin ini kecewa, akan berbuah kegagalan dalam operasi plastic terhadap wajahya. Dengan pertimbangan itulah, Ambar berusaha untuk menuntaskan nafsu birahi dari dokter lesbian itu dengan sandiwara sesempurna mungkin.*

NOVEL: MUTILASI CINTA -05

BY YIYIN N HEART
……………………………….
terbuka. Juminah mundur agak terkejut.
“Masuklah,” seorang wanita berpakaian dokter serta merta menarik tangannya ke dalam kamar dengan setengah menyeret tubuhnya. Juminah masuk dengan posisi tubuh nyaris tersungkur jatuh. Anehnya lagi begitu berada di dalam kamar, wanita itu segera mengunci kembali pintu kamar itu.
Sekejap Juminah memperhatikan wanita yang mengenakan pakaian dokter itu, seraya berusaha kembali berdiri dengan kaki menahan sakit akibat keseleo. Dokter itu berusaha menolong Juminah untuk berdiri. Tubuh Juminah tampak sedikit terhuyung. Dokter itu menuntunnya duduk ke sofa yang memang ada dalam ruangan itu.
“Ambar duduklah,” ucap dokter itu seraya membukakan sepatu hak yang dikenakan Juminah. Juminah masih terdiam dengan perasaan semakin tak mengerti. Apalagi dokter itu memanggilnya, “Ambar”. Jangan-jangan ia salah orang? Pikir Juminah waktu itu.
“Ambar….,” sapa dokter wanita itu sekali lagi pada Juminah seraya menerlentangkan kaki Juminah yang keseleo, “Kamu keseleo? Maafkan aku,ya? Aku tak bermaksud menyakitimu!” dokter itu kemudian berusaha memijati kaki Juminah. Untuk beberapa saat Juminah masih terdiam dengan berbagai teka-teki di dalam hatinya. Untuk beberapa saat lagi dokter itu terdiam dan terus berusaha memijar bagian kaki Juminah yang keseleo.
“Bagaimana? Masih sakit?” Tanya dokter itu dengan penuh perhatian. Juminah hanya menggeleng.
“Kenapa kau diam saja, aku menyapamu dengan nama ‘Ambar’?” bisik dokter itu seraya menindihkan tubuhnya ke tubuh Juminah dan mendekatkan wajahnya hingga hidungnya menyentuh hidung Juminah.
“Ambar, dokter?” Juminah gugup merasakan menyadari tubuh itu seakan sengaja menghimpit tubuhnya.
“Ya, sekarang namamu adalah nama Ambaratih. Sebuah nama yang cocok untuk gadis secantik kau tentunya. Bagaimana? Kau suka dengan nama barumu?” dokter itu tersenyum.
“Apa? Nama baru?” Juminah mengernyitkan dahinya.
“Ya, mulai sekarang anda adalah Ambar bukan Juminah,” ucap dokter itu dengan napasnya yang terasa mulai naik turun.
“Ambar, dalam hidup kadang kita tak memiliki scenario sendiri. Adakalanya skenario itu ada di tangan orang lain. Seperti kamu, Bu Djatmiko adalah pemilik skenario itu hingga kau benar-benar meninggalkan jati dirimu sebagai Juminah,” dokter itu napasnya semakin naik dan turun, “Okey, Ambar! Saya adalah orang yang dibayar dengan jumlah uang tidak sedikit untuk mengubah identitasmu. Mulai dari memberi nama juga akan mengubah wajahmu,” jelas dokter itu dengan suara lembut dan lirih diikuti dengan jari-jarinya yang mulai memainkan sesuatu di bagian dada Juminah. Juminah merasakan perasaan yang campur aduk tidak karuan. Antara geli, jijik, risik, dan gugup tidak karuan.
“Maksud dokter?” Juminah berusaha menenangkan diri untuk menguasai keadaan dan menyadari apa yang sesungguhnya terjadi saat itu.
“Ambar… Aku tahu kau memang sudah sangat cantik dengan wajah yang kau miliki sekarang ini…. Tapi nasib membuat kau terpaksa harus melakukan operasi plastic agar wajahmu berubah dan tak ada lagi yang mengenalimu….,” dokter itu seraya memagut bibir Juminah dengan amat bernafsu. Juminah terdiam tidak melakukan reaksi apapun. Ia hanya merasakan sapuan lidah dokter itu menari dengan lembut mengisap mulutnya. Kepasrahan itulah yang harus ia lakukan. Nasib dia kini berada di tangan dokter itu. Pikir Juminah seraya membuat tubuhnya lebih rileks.
………………..BERSAMBUNG

NOVEL: MUTILASSI CINTA -04

BY: YIYIN N HEART
………………………………………………………………………………………
Pagi hari berikutnya….
Di kamar Juminah…. Ia tengah asyik mempersiapkan hari pertama daftar ulang ke Fakultas Kedokteran UI. Krekkkk! Sebuah suara pintu mengejutkannya. Ternyata Bu Djatmiko masuk begitu saja ke kamarnya. Saat itu, Juminah baru mengenakan celana jeans dan t-shirt. Kreketttt! Pintu dikunci dari dalam oleh Bu Djatmiko. Sejenak ia memperhatikan suasana sekelilingnya.
“Jum!” bentak Bu Djatmiko tiba-tiba.
“Eu…,” Juminah kaget.
“Duduk, kamu!” Bu Djatmiko membentak. Matanya tampak berang. Napasnya naik dan turun menahan amarah.
“Ada apa, Bu?” Tanya Juminah seketika terduduk di atas tempat tidurnya.
“Ibu? Enak aja! Panggil aku Nyonya! Aku tak pernah ikut-ikutan jadi ibu angkatmu!” Bu Djatmiko mendongakkan dagu Juminah. Matanya menatap tegak lurus dengan ekspresi yang amat garang.
“Iya Nyonya!” Juminah dengan wajah ketakutan.
“Jum, kamu jangan macem-macem!” Bu Djamtimo melepas tangannya yang tadi mendongak Juminah.
“Maksud Nyonya?” Juminah menunduk.
“Aku tak mau melihat kamu di sini! Jadi Aku tidak mau tahu, mulai sekarang kamu harus pergi meninggalkan rumah ini!” tandas Bu Djatmiko. Ucap Bu Djatmiko seraya mendorong tubuh Juminah hingga tersungkur ke lantai.
“Saya harus pergi Nyonya?” Juminah mengernyitkan dahinya dengan serta merta menahan tubuhnya yang terjatuh.
“Ya! Dan kamu tidak boleh memberitahu pada suamiku, anakku, atau siapapun termasuk keluargamu keberadaanmu lagi!” tanda Bu Djatmiko.
“Apa maksud Nyonya?” Juminah berusaha menguasai dirinya. ia bahkan tahu, pasti kedatangan Bu Djatmiko akan mengklarifikasi keputusan Pak Djatmiko yang selalu menguntungkan Juminah.
“Kamu harus melenyapkan identitasmu! Atau aku akan menyuruh pembunuh bayaran untuk membunuhmu dan ibumu!” desis Bu Djatmiko mengancam.
“Saya?” kali ini Juminah benar-benar terkejut dan tak mengerti.
“Kamu tak usah bertanya! Kamu tidak akan memahaminya sekarang meski aku menjelaskannya! Yang penting ikuti semua apa yang kuintruksikan!” ucapan Bu Djatmiko dengan suara jelas dan nada yang tajam.
Juminah terdiam. Nasib terburuk apalagi yang akan menimpanya? Meski ketakutan dan kekalutan seketika mengusai dirinya saat itu, tapi akhirnya ia tetap berusaha untuk tetap menenangkan diri.
“Sekarang, tinggalkan tempat ini secepatnya! Di depan, sopir dan sebuah mobil akan menunggumu. Sopir itu akan membawamu ke suatu tempat. Kalau kamu sampai kembali lagi ke sini, atau tetap memakai identitas dirimu, aku sudah menyewa pembunuh bayaran dan tinggal mengirimkan sandi. Dengan sandi itu, nyawa kamu dan ibumu akan hilang untuk selamanya! Mengerti?” jelas Bu Djatmiko tandas.
Juminah tidak berkata apa pun. Ia keluar mengikuti perintah bu Djatmiko. Tak ada pilihan dalam kenyataan saat ini. Ia harus mengikuti perintah Bu Djatmiko kalau tidak mau kehilangan nyawanya.
Benar saja sebuah mobil dan sopir sudah menunggunya. Juminah masuk ke dalam sebuah mobil Corrona warna merah cabe berplat nomor B8779I. seorang sopir bertubuhnya tinggi kekar dan berwajah angker membukakan pintu untuknya. Juminah masuk di jok belakang. Begitu Juminah duduk, mobil dalam sekejap melsat meninggalkan pekarangan rumah Pak Djatmiko.
Sopir itu adalah George. Ia pimpinan sindikat algojo yang bisaa menyelesaikan masalah-masalah sengketa kelas berat tender-tender perusahaan. George merupakan kaki tangan andalan Bu Djatmiko. Sindikat algojo ini semula di bawah kendali ayah Bu Djatmiko. Tetapi karena ayahnya kemudian meninggal, maka Bu Djatmiko yang memegang kendali atas komplotan ini.
Di “FRESH CLINIC”……
Waktu menunjunjukkan pukul 9.00 pagi di tanggal 9 Juli 2008 itu…. Mobil memasuki area parkir. George tak berusaha menjelaskan apapun kenapa Juminah dibawa ke tempat ini. Begitu juga Juminah tak berusaha menanyakan apapun tentang dirinya.
“Turun!” George memerintah seraya turun dan mengunci pintu depan mobil. Juminah kemudian turun dari mobil sesuai instruksinya. Krekkkt! Pintu belakang mobil dikunci terlebih dahulu oleh George.
“Ikuti aku!” George berjalan memasuki area Fresh Clinic, sebuah rumah sakit special untuk operasi plastic di bilangan Jakarta Selatan. Juminah meningkuti. George diikuti Juminah masuk ke dalam lift menuju lantai XII.
Di lantai XII Fresh Cinic…
“Kamu tinggal tunggu di sini!” ucap George kemudian berlalu meninggalkan Juminah sendirian. Juminah tercengang. Berbagai pertanyaan muncul. Tapi ia tak bisa menanyakan apapun. Apalagi George langsung kembali masuk ke dalam lift meninggalkannya sendiri.
Krekkkk! Tiba-tiba pintu dari ruang kamar tepat dekat dimana Juminah

NOVEL: MUTILASI CINTA III

BY: YIYIN N HEART
………………………………………………………………………………….
“Ada apa, Pak?” Henry yang kamarnya tak begitu jauh langsung datang dan duduk di samping Pak Djatmiko.
“Papa mau Tanya? Kamu pengen punya ade perempuan yang cantik dan pintar?” Tanya Papanya seakan tak mempedulikan Bu Djatmiko yang amarahnya sudah meledak sedari tadi.
“Tentu, Pak!” jawab Henry.
“Nah, untuk punya ade, Mama kamu ‘gak bisa hamil lagi, tuh…. Berarti harus adopsi atau mengangkat anak ‘kan?”
“Iya, betul sekali itu Pah! Apa Papa mangangkat anak perempuan yang cantik dan pintar?” ujar Henry.
“Kamu tinggal memilih… Menurut kamu, mening kita adopsi anak di panti asuhan yang nggak jelas asal usulnya, engga ketahuan pintar apa idiot? Atau mening kita mengangkat Juminah yang ada di depan kita, yang udah ketahuan asal-usulnya, ketahuan perilakunya, cantik, dan jelas memiliki IQ yang hampir jenius?” ucap Pak Djatmiko berusaha memojokkan isterinya.
“Wah kalau buat Henry? Jelas! Mening ngangkat Juminah buat jadi adik Henry kalau perlu jadi temen seumur hidup Henry. Setuju! Setuju bangeet!” Henry tersenyum-senyum seraya menggoda Juminah yang kian menunduk.
“Nah, kesimpulannya… Papa sudah mengadakan poling! Satu lawan dua! Artinya keputusan suara terbanyak memutuskan bahwa Juminah mulai besok resmi menjadi anak angkat Papa. Dan Mama harus mengalah pada keputusan suara terbanyak! Paham?” ucap Pak Djatmiko seraya mengangkatkan telapak tangannya dan ditepukkan dengan telapak tangan Henry…Tossss! Seketika itu juga Bu Djatmiko langsung bergegas pergi meninggalkan ruang keluarga menuju lantai atas.
“Tuan, Saya tidak bersedia….,” ucap Juminah seraya memperhatikan Bu Djatmiko dengan khawatir.
“Kamu harus bersedia!” Pak Djatmiko tak peduli.
“Benar, Jum! Mama Cuma cemburu! Takut kasih sayang Papa berpindah ama kamu. Tapi nanti dia juga menyadari dan pasti menerima kamu!” Henry menepuk bahu Juminah.
“Tapi, Tuan!”
“Sudahlah! Mulai sekarang kamu panggil aku Papa? Bagaimana?” ucap Pak Djatmiko dengan wajah sumringah.
“Tapi saya ndak bisa Tuan!” jawab Juminah merendah.
“Kalau begitu panggil aku Bapak! Pasti bisa ‘kan?”
“Eu….,”
“Harus bisa… Ayo!”
“Ya, Ba-pak….,”
“Nah!” Pak Djatmiko tampak meneteskan dua tetes bening ketika Juminah memanggilnya Bapak, “Aku jadi haru kamu mau memanggil aku Bapak!” ucap Pak Djatmiko, “Ayo, mulai sekarang kamu tidak boleh duduk di lantai lagi! Kamu itu gadis pintar! Kamu lulus PMDK ke UI. Dan mulai besok kamu kuliah di Fakultas kedokteran. Artinya kamu itu calon dokter, Jum!” Pak Djatmiko tampak bangga sekali.
“Tapi aku tidak pernah daftar Tu…eu Bapak?”
“Yang daftarin kamu itu ya guru kamu. Aku yang nyuruh, supaya kamu diikutkan PMDK ke UI untuk ngambil Fakultas kedokteran!”
“Jadi?”
“Ya, kamu mulai besok tinggal kuliah di Fakultas kedokteran UI. Mengenai semua biayanya, aku sudah melunasinya. Jadi kamu tinggal masuk aja, ambil surat pengantar dari Pak Dawiryo di SMA kamu. Gampang ‘kan?”
“Sa, Saya jadi nggak enak….,”
“Sudahlah! Sekarang, kamu masuk kamar kamu dan siapkan apa-apa yang harus disiapkan besok!” ujar Pak Djatmiko.*

……………………………………………………..BERSAMBUNG

NOVEL: MUTILASI CINTA -2

…………………………………….
Malam hari pukul dua puluh satu, Pak Djatmiko tak seperti bisanya sudah santai di ruang keluarga bersama isterinya. Hari itu ia pulang lebih cepat dari hari biasanya. Sehingga ada kesempatan untuk santai dan berkumpul dengan keluarganya. Pak Djatmiko saat itu tengah santai menikmati kopi panas bersama isterinya. Sementara Henry masih sibuk di dalam kamar mengurusi mata kuliahnya.
“Jum,” tiba-tiba Pak Djatmiko memeanggil Juminah yang kebetulan lewat untuk mengantarkan teh panas buat Henry di kamarnya.
“Tuan memanggil saya?” ucap Juminah dengan wajah yang tak berani menatapnya. Pak Djatmiko tampak memperhatikan Juminah dengan tersenyum. Sementara, Bu Djatmiko hanya melirik dengan pandangan tak simpatik.
“Jum, kamu kasihin dulu ini teh ke Henry, ya? Nanti kamu kemari lagi. Ada yang ingin aku bicarakan kepadamu!” ucap Pak Djatmiko.
Juminah yang menunduk memegangi secangkir teh panas mengangguk. “Permisi Tuan, Nyonya….,” Juminah meninggalkan Bapak dan Bu Djatmiko menuju kamar Henry. Tak berapa lama, Juminah kembali menemui Pak Djatmiko dan isterinya. Juminah duduk ‘emok*’ di lantai.
“Jum,” Pak Djatmiko tampak menegak kopi panasnya dalam-dalam.
“Ya, Tuan….,” Juminah selalu berusaha menunduk.
“Jum, kamu udah dapet ijazah SMA-nya?” Tanya Pak Djatmiko.
“Udah, Tuan!” ucap Juminah, “Tuan dan Nyonya baik sekali! Di sini saya disekolahkan sampe tamat SMA. Saya tak tahu bagaimana saya harus berterima kasih sama Tuan dan Nyonya….!” Ucap Juminah dengan suaranya yang khas.
“Jum, boleh aku lihat ijazahmu?” ucap Pak Djatmiko kemudian.
“Boleh, Tuan!” ujar Juminah kemudian bergegas menuju kamar belakang untuk mengambil ijazahnya. Kemudian Juminah sudah muncul kembali seraya menyerahkan ijazah SMA yang sudah dilaminating kepada Pak Djatmiko, “Ini Tuan…,”
Pak Djatmiko menerimanya. Kemudian ia memperhatikan transkrip nilai yang terdapat di belakangnya…..,”Bagus…. Rata-rata nilainya hampir delapan puluh… Kamu dapet rangking, Jum?” ucap Pak Djatmiko tampak begitu sumringah begitu melihat transkrip nilai ijazah Juminah.
“Ampun Tuan…. Saya Cuma dapet rangking ketiga di kelas….,”
“Bagus, bagus…!” Pak Djatmiko menarik napas seraya mengerutkan keningnya, “Tadi Bapak baru dapet telpon dari guru kamu…. Katanya kamu didaftarkan PMDK, dan lulus? Apa bener?”
“Ampun, Tuan…. Itu ndak tahu…. Jum nggak niat kuliah…. Jum nggak punya biaya… Selama ini aja Jum udah banyak ngerepotin Tuan,” jawab Juminah seakan ketakutan memperhatikan Bu Djatmiko yang tampak terkejut begitu mendengar ceritera Pak Djatmiko.
“Ya, iyalah! Masa pembokap pakek kuliah segala…. Kalah dong kalo gitu majikan!” ucap Bu Djatmiko semakin sinis memandang Juminah.
“Ma, Juminah di sini sudah kuanggap anak angkatku! Kenapa Mama berani sekali berkata demikian?” Pak Djatmiko tiba-tiba wajahnya memerah.
“Apa? Anak angkat?” Bu Djatmiko sinis.
“Iya, kenapa? Ibu gak setuju?”
“Ya, jelas ibu gak setuju!”
“Bu, kita Cuma punya satu anak dan ibu tidak bisa hamil lagi setelah melahirkan Henry karena rahimnya diangkat. Nah, apa salahnya kita mengangkat Juminah untuk jadi anak angkat kita?”
“Apa lagi maksud papa? Dulu papa minta ijin agar mama menyekolahkan Juminah sampai tamat SMP saja. Kata papa biar buat jadi pembantu, tapi harus pintar. Kemudian begitu tamat SMP, Papa naik banding agar Mama menyetujui Juminah sekolah hingga tamat SMA dengan pertimbangan ia bekerja di sini tanpa digaji. Mama sudah menyetujui…. Sekarang Papa naik banding lagi agar mengangkat Juminah menjadi anak angkat kita? Apa lagi maksud Papa?” Bu Djatmiko tampak seketika naik darah.
“Tuan, mohon saya jangan dijadikan pertengkaran. Saya tidak pernah bermimpi terlalu tinggi… Apa lagi untuk menjadi anak angkat Tuan!” ucap Juminah dengan wajah menunduk.
“Dengerin, Ma! Juminah itu memiliki intelegenty yang bagus. Bahkan gurunya sendiri pernah memberiku hasil tes IQ Juminah… Juminah memiliki IQ yang tinggi…. Ini adalah sesuatu yang luar bisaa…. Papa tak ingin menghilangkan kesempatan anak-anak yang tidak mampu tapi ber-IQ tinggi untuk meraih cita-citanya… Apakah Mama rugi membiyayai Juminah kuliah sementara kelak dia bisa dijadikan asset untuk membangun perusahaan kita?” jelas Pak Djatmiko.
“Mama enggak mau denger lagi alasan Papa!”
“Ma, dalam hal ini Papa yang memutuskan! Juminah harus meneruskan kuliah dan aku akan meresmikan pengadopsian anak angkat pada Juminah sesegera mungkin!” Pak Djatmiko dengan tandas.
“Tidak, Tuan! Saya tidak bersedia kuliah! Saya tidak mau merepotkan!” ujar Juminah.
“Tuh, Papa! Denger sendiri ‘kan? Juminah sendiri menolak? Lagian enggak ada ceriteranya seorang pembokap disekolahin sampe jadi sarjana? Emangnya kita ini panti asuhan?” Bu Djatmiko mencibir.
“Henry!” Pak Djatmiko tiba-tiba memanggil Henry.
……………………………………BERSAMBUNG!

CERPEN YIYIN N HEART: BIANGLALA ROBEKAN HATI

“Kau cantik…. Dan membuat aku tercurah padamu….,” semula kalimat itu terasa biasa saja. Tapi apa yang harus diawali dari sebuah hati. Rasa tersanjung yang terlanjur dalam. Aku hanyut dan tiba-tiba berangan untuk menjadi kekasihnya. Padahal aku tahu, aku tak serius sama sekali… aku hanya ingin menguji sampai sejauh mana aku mampu menundukkan orang dengan sisa kecantikan di usia menjelang 40 ini. Ya, aku sebenarnya naïf dan berlebihan…
Diam-diam aku terlalu mengagumi diriku berlebihan. Setiap orang yang berpapasan denganku selalu menyangka kalau usiaku masih di bawah 30-an. Aku kadang terlalu narsis karena sering digilai anak ABG yang jatuh cinta padaku…. Meski demikian aku tetap setia dengan statusku…. Aku adalah isteri dari Prawira dan ibu dari anak gadisku Sandra. Sandra, ia pun sama seperti aku, ia mewarisi pesonaku….
Hingga pada satu kali aku bosan…. Jenuh dengan semuanya…. Membuat aku mencari kebahagiaan yang lain, tapi bukan untuk menghianati suamiku….aku hanya ingin mencoba sesuatu yang baru….
Itulah awal mula aku mengenal Zasyella. Ia wanita muda yang masih berusia 25 tahun, cantik, dan berkearganegaraan Jerman. Aku berkenalan lewat friendster…. Ia langsung menyanjung dan mengirim surat kencannya untukku…. Alhasil surat demi surat kencan itu mempengaruhi pikiranku. Aku mulai mabuk dengan rayuannya dan membalas surat kencan yang tak kalah hotnya…
Hingga pada suatu kali Zasyella menanyakan perihal identitasku…. Ia bertanya tentang berapa usiaku, bagaimana statusku…. Dsb… Saat inilah aku dideraa kebimbangan… tiba-tiba aku takut kehilangan imajinasi bercintaku yang terlanjur indah menghiasi jiwa dan pikiranku. Tapi aku juga tak mau menghianatai Prawira dan Sandra….
Apalagi kutahu persis jika Prawira sangat mencintaiku. Dan aku sudah menjalani rumah tangga hamper selama 16 tahun lamanya. Waktu yang cukup lama…. Berkat kebaikan dan ketulusan dari Prawiralah… aku masih memiliki tubuh yang seksi dan wajah yang cantik hingga usia menjelang 40 begini….
Setelah aku merenung berhari-hari tanpa terlewat menimbang senyum Sandra, anak gadisku yang super imoet dan telah menjelma menjadi gadis yang cantik…. Akhirnya aku memutuskan untuk berterus terang terhadap Zasyella….
Setelah menerima suratku, Zasyella langsung membalasnya…. Tapi ia tak lagi hangat, tak lagi mesra….. aku tiba-tiba begitu hampa…. Aku berusaha mengirim surat kepada Zassyella…. Tapi Zassyella tak membalas….. Ia seakan pergi menghilang ditelan ssenyapnya dunia maya…. Bahkan ia benar-benar tak bias dikonteks lagi sebagai friendster olehku….
Sebuah kesedihan atau kegilaan tiba-tiba mengurung aku dalam pikiran sentimental….. aku terdorong oleh rindu yang tak tentu…. Hidupku terasa hampa tanpa gairah…. Bahkan aku bagai kehilangan semua nafsu dan rasa untuk menikmati dunia….. aku bagai terrhempas dan terpuruk dalam cinta maya lesbian yang aneh………………..bersambung.

YINS N HEART: Affair In A Facebook Janee mengambil notebook untuk mengaktivasi internetnya. Setelah halaman FB-nya terbuka, untuk beberapa lama, Janee terdiam. Marline mendekat berusaha mengintip apa yang tengah diperhatikan Janee. Janee ternyata tengah membuka sebuah inbok dari Adgist….. From: Adgist To: Janee Title: With Love “Honey Janee, ever you think anyone? We are together in a nice home…there we are glad and make love… then we always together forever… are someone dreaming only? Or may be to realy? Why we so far? Honey, my hope you fine… so only this letter that I can gave you to make you happy… My hot kisses, ADGIST” “Adgist? Kau…?” seketika Marline terbelalak begitu melihat foto Adgist, “Ini foto asli Adgist?” Janee mengangguk. “Kau saling mengirim surat kencan dengan….,” “Ya!” Janee menutup mulut Marline dengan satu telunjuknya. Marline terdiam dengan dua bola mata menatap Janee tanpa berkedip. Janee menunduk. Rona wajahnya memerah. Bibirnya terkulum rapat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. “Jadi ini alasan sebenarnya, kenapa kau…,” Janee terdiam. Ada setetes ludah yang tertelan ke dalam tenggorokannya amat kering seketika. Janee tampak menulis sesuatu untuk Adgist. “Kau menikmati kencan semu sebagai lezss…?” bisik Marline dengan bibir yang nyaris merapat ke daun telinga Janee. “I don’t know, Marline… I love Adgist since the first loves letter, she send me…,” jawab Janee merasuk. “It is imposible, Janee! You are like find anyone for maked you had satisfaction in love…,” tepis Marline, “But, Why are you no honesty me if you had love affair with same gender?” “Not the case…!” tepis Jane, “I cant understand if suddenly I am fall in a love in a facebook… I cant believe it… But It is realy…,” “Realy for you maked run for a reality…” tukas Marline. “Why?” “You difficult for honest about your sex affair, and caused it you find your satisfaction for close your heart…,” Kali ini Janee terdiam. Ia tampak begitu kusyu membalas inbox dari pujaan hatinya… From: Janee To: Adgist Title: With Love This is my lip to send only you for with hot kisses. Feel my tongue in your mouth… it make dance for our love… And you know, I love you too, without know wherever you live now. But I feel very near… Honey, feel my heart… without for stop to love you…. JANEE. “Janee, kau ternyata senang sekali hidup dalam sebuah mimpi….,” gerutu Marlene. “Mimpi katamu? Adgist itu nyata…. Dia bukan mimpi… Dia menjanjikan akan menjemputku dan membawaku hidup bersamanya di sana…,” “Kau bermimpi untuk hidup bersama Adgist di California, Janee?” “Aku tidak mimpi…. Tapi itu rencana kami….,” wajah Janee penuh yakin. “Kau? Kau tidak menyadari kalau kau terbawa arus mimpi kosong, Janee?” ungkap Marlene seraya mendongakkan dagu sahabat yang sudah seperti saudara kandungnya sendiri. “Mimpi? Itu ‘kan menurut sudut pandangmu yang beranggapan kalau FB itu iseeng, haram, mengerikan, dan mimpi kosong…. Dan aku pemilik mimpi kosong itu orang gila di matamu ‘kan?” Janee tampak wajahnya sangat tersinggung. Sejak hari itu, Janee bagai patung bisu. Ia tak pernah mau lagi diajak bicara, bahkan selalu terdiam dan menyendiri. Tak sampai di situ saja, di kantor pun, Janee selalu menghindari Marlene. Padahal mereka bekerja dalam satu ruangan. Berkali-kali Marlene berusaha memohon maaf…. Tapi Janee benar-benar tak peduli.* Senin yang manis…. Sebuah meeting karyawan akhirnya memaksa Janee dan Marlene untuk bekerja sama. Bu Hermien, sebagai direksi tampak sudah dating untuk memimpin rapat. “Okey…. Saudara-saudara…. Meeting kali ini akan terasa lebih istimewa…. Karena Direksi dari California akan berkenan untuk meninjau langsung preformen meeting kita dalam mengambil keputusan terhadap masalah perusahaan…. Apa lagi terakhhir, prospek perkembangan daya beli masyarakat terhadap produk kosmetik kita cukup luar biasa…. Sehingga tak heran jika perusahaan cabang di Indonesia ini akan dijadikan standar acuan bagi konsep pemasaran di Negara lainnya…” Bu Hermien kemudian duduk lagi. Dilanjutkan dengan menjelaskan topic bahasan inti dalam meeting. Dalam kejap-kejap kekentalan suasana meeting, tiba-tiba pintu ruangan diketuk seseorang…..”Tok, tok, tok…..!” Seorang karyawati yang kebetulan paling dekat dengan pintu, Janee, langsung berdiri membukakan pintu…. “Klekkkk!” Begitu pintu terbuka, “Kalkkkk!” sesosok wajah orang asing tampak dari arah pintu yang terbuka. Semua pasang sudut mata tertuju kepada sesosok wajah wanita berkulit bule dengan rambut pirang tergerai…. “Hallo… Misss…. You are coming more fast….. ,” Bu Hermien segera berdiri dan menggandeng wanita bule yang tubuhnya tinggi besar itu. Sementara Janee sejak pertama kedatangan wanita bule itu duduk dengan tatapan terkesima…. Kepalanya bagai seketika diingat sesosok wajah yang amat dekat dalam ingatannya….. Bahkan ketika wanita bule itu bersitatap dengan Janee…. Ia sempat memperhatikan wajah dan seluruh tubuh Janee dengan keterkejutan yang sama….. “Sit down, please….,” Bu Hermien dengan sangat hormat mempersilahkan wanita bule yang ternyata perwakilan direksi dari California. Dalam beberapa saat semua karyawan yang ada dalam meeting terlibat dalam sebuah pembicaraan serius. Terkecuali Janee yang tampak tidak berkonsentrasi sama sekali, bahkan terkesan salah tingkah sejak kedatangan wanita bule itu. Hingga akhirnya meeting pun berakhir, tampak Janee selalu tercenung-cenung sendiri. Apalagi wanita bule itu selama meeting berkali-kali seakan sengaja meneliti wajahnya. Begitu meeting usai, Bu Hermien menuntun wanita bule itu ke ruang kantor pribadinya untuk terlibat dalam pembicaraan khusus. Janee tampak jauh lebih beku wajahnya ketimbang sebelumnya. Berkali-kali Marlene mencoba menggunakan kesempatan ini untuk mencairkan suasana di antara mereka yang sudah beku, tapi tak berhasil. Janee tetap mengobarkan perang dingin. Diam-diam, Marlene sendiri sebenarnya seperti pernah mengenal wanita bule itu tapi entah dimana…. Ya, mungkin saja wajah wanita bule terkadang samar satu sama lain dan boleh dibilang hamper mirip. Bias jadi itulah penyebabnya yang membuat Marlene serasa pernah mengenalnya. Ketika Janee sedang terpaku-paku sendiri, tiba-tiba Bu Hermien masuk…. Ia tampak membisikkan sesuatu pada Janee. Marlene sebenarnya ingin sekali menanyakan apa yang dibisikkan Bu Hermien pada Janee…. Tapi suasana Janee yang terus mengobarkan perang dingin, membuat Marlene mengurungkan niatnya. Janee ketika pulang kantor, ia tampak pergi ke suatu tempat. Sebenarnya Marlene ingin sekali mengikutinya, tapi ia takut kalau Jane tambah marah. Tapi entah mengapa, Marlene seakan merasakan ada sesuatu yang kurang beres terjadi pada Janee. Bagaimana pun, Janee adalah sahabat yang sudah seperti saudara kandungnya. Selama ini mereka selalu seia sekata berdua. Kecuali dalam satu hal mereka berbeda pendapat, yakni tentang facebook…. Dan karena facebook pulalah persahabatan mereka seketika pecah bagai berada di negeri entah berantah. Begitu sampai di apartement, Marlene tampak gelisah. Hal yang tak seperti biasanya…. Suasana terasa makin sepi. Hari mulai berangkat malam, Marlene dengan gelisah menelentangkan tubuhnya di sofa….. tiba-tiba ia menyesal sudah menyinggung perasaan Janee…. Andai saja ia tidak dalam suasana perang dingin, pasti Janee akan berceritera banyak padanya….. tapi kali ini kekhawatirannya sia-sia saja…. Hari menjelang pagi…..Marlene tertidur pulas di sofa….. tiba-tiba Marlene dibawa dalam sebuah bayangan yang amat mencekam…. Sebuah ruang yang amat gelap, hampa suara, dan begitu mengerikan…… Marlene menyaksikan Janee menjauh…. Kian jauh…. Lantas berubah menjadi asap yang menghilang….. saat itulah kemudian Marlene menangis… terisak-isak…. Tiba-tiba ia merasakan kesedihan yang mendalam…. Bahkan teramat dalam…….. bersambung!

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.